aircraft grounded due to covid-19
Travelling

Di Manakah Tempat Pesawat Diparkir Semasa Pandemi COVID-19?

Pandemi COVID-19 sudah berlangsung lebih dari tiga bulan, dan selama kurun waktu ini pun industri penerbangan mengalami rehat panjang. Ratusan maskapai—mulai dari full service hingga low cost carrier—sama-sama merasakan kerugian yang amat besar. Turunnya jumlah penumpang menjadi faktor utamanya. Selain itu, ada pula isu pemarkiran pesawat.

Turunnya frekuensi jadwal penerbangan berarti membuat adanya kenaikan pada jumlah pesawat yang tidak dioperasikan dan terpaksa diparkir. Namun, mencari tempat parkir pesawat tidaklah sesederhana ‘memarkir’. Selain membutuhkan ruang yang amat besar, beberapa faktor eksternal juga perlu dipertimbangkan untuk memarkirkan sebuah pesawat.

Mengutip CNBC, satu pesawat Boeing 737 (jenis yang paling banyak dipakai oleh maskapai di seluruh dunia) membutuhkan space selebar 35 m, atau hampir selebar lapangan bola. Sedangkan pesawat komersil terbesar di dunia, Airbus A380, memerlukan ruang selebar 80 m untuk menampung bentangan dua sayapnya. Akan tetapi, faktor seperti berapa lama pesawat akan diparkir dan jenis perawatan seperti apa yang akan dibutuhkan juga menjadi dua poin penting sebelum maskapai bisa memilih tempat parkir. Dan lagi, saat ini dua per tiga armada pesawat sudah tidak terbang. Jadi, ruang yang dibutuhkan sangat banyak. Lalu, di manakah tempat mereka diparkir selama pandemi COVID-19 ini?

Bandara penghubung maskapai dan pelataran kosong

Melansir beberapa situs, kini ada sekitar 16000 armada pesawat di seluruh dunia yang tidak digunakan untuk terbang. Lokasi pertama yang digunakan untuk memarkirkan belasan ribu alat angkutan ini adalah bandara penghubung maskapai dan pelataran kosong.

Bandara penghubung maskapai (airline hubs) merupakan bandara-bandara yang digunakan maskapai sebagai titik transfer untuk pergantian penumpang. Sebagai contoh, maskapai United Airlines memiliki hub di Houston dan American Airlines mempunyai hubs di Tulsa dan Pittsburgh. Sehingga, kedua maskapai ini masing-masing memarkirkan lebih dari 40 armada di tiap bandara hub tersebut.

Walau begitu, jumlah airline hubs tiap maskapai belum mampu menampung seluruh armada yang dimiliki. Maka dari itu, tak sedikit pula maskapai yang juga menitipkan armada-armada mereka di pelataran kosong seperti di bekas pangkalan udara tentara AS, Victorville. Southwest dan Delta sama-sama memarkirkan sejumlah armada mereka di Victorville, California; Marana, Arizona; Mobile, Alabama, juga Roswell, New Mexico. Singapore Airlines juga menitipkan belasan armada mereka di lokasi penyimpanan pesawat di Alice Springs, Australia.

Landasan pacu dan jalan penghubung landasan pacu

Opsi kedua—dan terdesak—adalah landasan pacu (runway) dan jalan penghubung landasan pacu (taxiway). Ada banyak sekali runway dan taxiway bandara-bandara di dunia ini yang sekarang dinonaktifkan untuk dialihfungsikan sebagai tempat parkir pesawat. Melansir The Jakarta Post, empat maskapai lokal Singapura: Singapore Airlines, SilkAir, Scoot, dan Jeststar Asia terpaksa diparkirkan pada beberapa taxiway yang dimiliki oleh Bandara Changi. Jumlah armada yang diletakkan pada jalan-jalan tersebut ada sektiar 143 buah. Sebagian armada lain yang tak dapat ditampung di runway dan taxiway Changi dititipkan di lokasi penyimpanan pesawat Asia Pacific Aircraft Storage yang terletak di Alice Springs, Australia.

Itulah dia lokasi-lokasi parkir ratusan armada dari beberapa maskapai di seluruh dunia. Ternyata isu yang dialami maskapai bukan hanya soal kerugian karena kekurangan penumpang, ya, tapi juga perkara parkir armada. Hmm, semoga pandemi ini segera berakhir dan pesawat-pesawat tersebut bisa kembali mengudara, ya. (AP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *